suatu lonjakan besar dalam hidupku
senin, 10 Oktober 2016
waktu itu, aku masuk ke ruangan kelas dengan hati gundah.
sebelum masuk kelas, aku telah "melapor" kepada Tuhan.
"Ya Alloh... semalam aku telah mengerjakan tugas sak pol kemampuanku, semoga ada nilai tambah dari para manusia di kelas... yang peduli pada kesabaran dan struggle... bukan hanya sekedar mencari nilai. semua itu ku serahkan padamu ya Rob... "
dalam hati aku bertanya... apakah niatku benar-benar tulus?
Lalu ku mantapkan... ya aku tulus. Aku mengerjakan tugas ini, karena aku ingin mendapat ilmu dan nilai tambah untuk menutup kekuranganku seminggu lalu yang absen karena diare di saat yang tidak tepat. Baiklah... di tangga lantai II gedung fakultas ekonomi, aku berharap ada yang mengelus kepalaku, seraya berkata "santai nak... ini tidak akan sesulit yang kau bayangkan, lalu aku menjawab... baiklah ibu, doakan aku yang tidak baik dalam segala hal ini, lalu ibu menjawab "tenang nak, hidupmu bukan hanya untuk pendidikan formal yang mengharuskanmu mempunyai kemampuan sama dalam segala mata kuliah yang kau tempuh, lebih dari itu, kau adalah perempuan yang kelak menjadi seorang pendidik, pembimbing, pengajar, pelatih, dan penasihat hukum untuk anak-anak dan suami tercintamu.
kau luar biasa dalam hal tersebut, teruslah berjalan dengan tegap saat ini, kelak waktu itu akan datang. wahai anakku, calon ibu untuk cucuku... kau harus kuat... seperti ibumu... ya sayang? sudahlah, hapus keraguanmu, ayo nak angkat mahkotamu kembali. ucapkan basmalah ya, kau anakku yang paling aku sayang dari semua anak-anak yang aku miliki. aku mencintaimu anakku...
Tanpa sepatah katapun aku menjawab, aku hanya akan tersenyum mendengar nasihat ibu yang sangat menyentuh hati terdalam.
Ku atur raut wajah sebaik mungkin ketika bertemu dengan teman-temanku di kelas. Ku tampilkan deep acting dan surface acting.
Aku duduk di bangku depan untuk mengirimkan file power point via USB ke laptop ketua kelas.
Tak lama kemudian, sosok yang penuh kharisma ini datang juga.
Aku memutuskan untuk pindah ke kursi paling belakang. berharap aku bisa belajar dan bertanya tentang materi yang akan aku presentasikan. bukan apa-apa, aku ingin bisa mengobrol sebentar untuk mengurangi betapa nervousnya aku.
Tiba-tiba wajah itu menjebakku dengan telunjuk yang mengarah padaku "heh kamu yang kerudung merah, kenapa kamu escape dari kelas saya? saya tahu waktu itu kamu keluar nitipin tas ke temen kamu terus pergi, padahal setelah kamu pergi itu saya berikan ilmu yang mahal pada teman-teman kamu"
"saya diare pak", jawabku dengan penuh keraguan beliau akan percaya.
Jelas ia tak percaya karena ia langsung menjawab, "kenapa kamu tidak izin saja, kamu lebih terhormat ketika kamu izin dan jujur. saya sangat tidak suka dengan anak yang tidak sopan, lebih baik saya mengajar anak yang bodoh tapi sopan daripada anak-anak yang tidak punya etika." aku masih terdiam.
"saya berhak memberi kamu nilai E karena kelakuanmu, itu adalah alibi kamu", lanjutnya. Maaf jika saya tidak menghormati kamu, itu karena kamu tidak menghormati majelis ini dan kamu tidak menghormati saya, saya sudah katakan di awal, jika saya sudah menghadapi orang-orang yang tidak waras di awal kuliah, maka ke belakang akan mempengaruhi sikap saya pada kelas tersebut. Saya menilai orang dari cara dia berbicara dan bersikap. makanya saya sering memperhatikan gaya bicara kalian saat presentasi, mengajukan pertanyaan, bahkan menjawab pertanyaan. Saya memperhatikan kamu terlihat sangat tidak tenang, duduk di depan pindah ke samping, presentasi kedua kamu juga menghilang. Banyak mahasiswa saya yang saya beri nilai E karena attitudenya yang tidak baik, ga wajar. Saya melihat mahasiswa saya merokok waktu itu, maka di mata kuliah tersebut saya beri dia nilai E. Saya tidak akan melihat dia di kelas aktivitasnya dan sikapnya seperti apa, bagi saya itu sudah poin negatif.
Ada lagi ketika saya di luar, saya tahu dia mahasiswa saya, tapi ketika papasan dia tidak menyapa saya, maka saya beri dia nilai E.
Sungguh, saya lebih baik mengajar mahasiswa bodoh daripada mahasiswa yang tidak sopan. Jika kalian pandai, kalian tidak akan berada di UNEJ. saya sama ratakan kemampuan kalian disini, kalian bukanlah mahasiswa yang pandai, kalau kalian pandai kalian tidak akan di UNEJ.
seisi kelas hening namun ku lihat beberapa tertunduk lesu dan yang lain mengangguk kepala seraya tertunduk dan menyetujui statement beliau.
lalu aku pun mencoba tenang, jujur hal itu sangat menamparku, tapi, aku adalah psychopat. aku tidak menyesal dan marah bahkan kecewa akan sikapku atau terlalu jauh aku menyalahkan diriku sendiri.
jadi begini, aku adalah seorang risk taker, aku seringkali tak berpikir apa yang akan terjadi ketika aku melakukan hal itu. aku hanya berusaha keluar dari kelas itu selanjutnya biar Tuhan yang mengatur. aku tahu itu salah, tapi aku benar. benar atas pemikiranku.
sudahlah, kalian yang membaca blog ini mungkin juga akan menganggap aku tidak waras.
"Saya sebenarmya malas harus ceramah disini," lanjutnya. Lalu beliau menatapku, bahkan saat dia menatapku pun aku tetap tenang. Beliau bertanya, apa yang kamu pikirkan tentang saya?
bapak SDMnya bagus. beliau sedikit tersenyum, SDMnya siapa?
rupanya jawabanku disangkal, kualitas SDM bapak bagus.
Lalu dia tersenyum, senyum yang misterius. Aku tak tahu apa makna senyum itu. Apakah beliau mengiyakan jawabanku atau merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Begini, saat kita di bawah tekanan adakalanya kita sakit, ingin menyerah saja, ingin marah, mengumpat, menangis, iya kan?
tapi, ketika aku di bawah tekanan, aku tersenyum. aku tahu Tuhan melihatku, sambil berkata padaku, tenang hambaKu, ini ujian kecil untuk mengajarkanmu arti sebuah perjuangan.
saat itu, yang aku pikirkan adalah pemikiran para psikopat, mereka adalah orang-orang negatif namun terlihat sangat positif dengan sikap yang mereka tunjukkan.
mungkin kalian yang membaca akan sangat yakin bahwa aku sakit jiwa.
tidak, bukan sakit jiwa, aku terbiasa menahan sakit.
Aku menikmati rasa sakit itu, aku anggap sebuah nikmat Tuhan. Aku tahu Tuhan melihatku, aku yakin Tuhan mengelus kepalaku, sambil berkata 'bagaimana nak, indah bukan ujianku? tidakkah kau bersyukur? tidakkah kau sehabis ini melakukan perubahan besar untuk hidupmu dan lebih kuat? tidakkah kau menanamkan pemikiran orang lain dan mengikuti aturan mereka saat ini? kau sudah terlalu jauh nak, kau terlalu jauh mengikuti alur ceritamu yang dihasilkan dari pemikiran dan imajinasi liarmu. Ayo nak, kembali lah pada jalan yang benar. Ikuti aturan yang ada namun lakukan yang menurutmu paling baik saja.
Aku masih berusaha tenang dan berkonsentrasi pada presentasi temanku.
Aku memperhatikan apa yang mereka presentasikan. Rupanya, apa yang mereka presentasikan memang apa yang mereka baca di buku itu, tidak keluar dari tema.
Sedangkan aku keluar dari tema, walaupun ada sedikit yang masih berkaitan.
Aku tidak 100% yakin bahwa presentasi akan berjalan mulus tanpa persiapan matang.
Ya, semua tahu hal itu. Tibalah waktuku presentasi, aku merasa ingin muntah saja saat itu. Jujur aku mulai pusing, mual, bahkan mungkin aku pucat.
slide pertama aman, slide kedua.
"sebentar, kamu membahas apa tiba-tiba ke inflasi, saya bolak-balik baca buku di sub bab 4 tapi ngga ada penjelasan inflasi", sanggahnya.
kamu sengaja keluar dari tema? ini apa ada pembahasan seperti ini di sub bab 4. Kalau kamu mau mempertegas di beberapa poin boleh saja, tapi disini kamu sudah keluar dari temanya. Walaupun ada sedikit bahas tentang inflasi. lalu bagaimana pendapat kamu tentang ini?"
Aku pun menjawab "saya pikir ini membahas apa yang terjadi di masa sekarang."
Kamu jangan mencampur adukkan pemikiran kamu disini, saya dari awal menyuruh kalian membaca buku ini yang temanya membahas tentang sejarah perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun, supaya kalian tahu kondisi ekonomi Indonesia, apa saja kebijakan BI dan pemerintah, saya sengaja bawa kalian ke history.
Kalau saya bawa kalian ke masa sekarang saya akan banyak referensi dan mungkin akan tambah kompleks masalahnya.
Lalu gimana ini ketua kelas, memang sudah ada pembagiannya kan?" tanyanya pada Sherly.
"Jadi begini pak, kemaren itu sebenernya saya sudah membagi dan ini adalah bagian auro. Tapidia mendadak mengundurkan diri. Teman-teman di grup mungkin emosi dengan keputusannya, kita pun bingung siapa yang menggantikan presentasi. Akhirnya mba annisa yang mau menggantikan presentasi Auro.
"Mana yang namanya auro?" tanyanya. "kalau bapak ingat mungkin dia yang tanya waktu itu itu duduk di sebelah situ", jawab Sherly
"Jadi kelemahan kalian memang membaca, apa sulit buku yang saya jadikan referensi ini?
kalau kalian diberi buku bahasa inggris yang tenses dan grammarnya masih mudah begini saja sudah menyerah, lalu bagaimana dengan saya?
Saya harus mentranslate tulisan saya ke dalam bahasa inggris terlebih dahulu lalu saya coba translate ke bahasa jerman walaupun saya tidak begitu bagus bahasa jermannya. Saya tanya kepada teman saya, apa dia bisa membantu saya?
Akhirnya dia mengoreksi beberapa kalimat yang grammar jermannya salah
Kalau saya sudah nyerah dari dulu, saya ngga tahu tuh jadi apa saya sekarang.
Jujur aku terdiam lesu. "kalau kalian ngga punya rasa malu pada diri sendiri ya kayak gitu jadinya
makanya kalian harus malu jadi anak kuliah yang ga pake otak
keras kan saya, dosen aja ngga suka sama saya apalagi mahasiswanya
sikap saya pada mahasiswa di kampus swasta berbeda dengan mahasiswa di kampus negeri, bahkan sikap saya di seminar atau ketika jadi pembicara pun akan berbeda di corporate maupun di luar corporate
lalu bagaimana ini ketua kelas?", tegasnya.
Mba annisa, slide yang lain sama dengan buku?", tanya Sherly
"Ngga sama", jawabku dengan lirih.
"yaudah pak kalo gitu dilanjutkan ke poin 2.2", lanjut Sherly.
Akhirnya aku kembali ke bangku, dengan tertunduk kecewa namun tak apalah. kegagalan mengajarkan segalanya.
Tuhan, ternyata selama ini benar
kebiasaan buruk akan membawa pada nasib buruk
Ternyata, karma memang ada
Tuhan, terimakasih telah mengingatkanku dengan cara yang indah
Bahkan tak banyak orang mengajarkan ini padaku
Melalui beliau aku sadar, yang dibutuhkan saat ini memang kecerdasan IQ, EQ, dan SQ
Lebih dari itu beliau mengajarkanku, cara bicara dan sikap cukup untuk menilai kualitas diri seseorang
Silahkan kalian buktikan, kata-kata bijak berikut
watch your thoughts, they become your words
watch your words, they become actions
watch your actions, they become habits
watch your habits, they become character
watch your character, they become your destiny
fun fact: aku ngestroll IG pak Ridwan Kamil buat nyari quote di atas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar